Wilayah pesisir Kota Langsa memiliki peran strategis sebagai ekosistem mangrove yang kaya, namun posisinya yang berdekatan dengan jalur pelayaran membuat kawasan ini rentan terhadap risiko pencemaran hidrokarbon. Menanggapi ancaman tersebut, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Langsa memperkenalkan pendekatan inovatif yang ramah lingkungan melalui program Bioremediasi Pantai. Strategi ini dipilih sebagai alternatif dari pembersihan fisik yang sering kali justru merusak struktur tanah dan biota lokal di sekitar garis pantai.
Bioremediasi adalah proses penggunaan mikroorganisme, seperti bakteri atau jamur, untuk mengurai polutan berbahaya menjadi senyawa yang lebih sederhana dan tidak beracun. Dalam konteks di Langsa, para ahli kesehatan lingkungan berfokus pada isolasi bakteri lokal yang memiliki kemampuan alami untuk “memakan” molekul minyak. Fokus utama dari riset ini adalah untuk mempercepat proses pembersihan Tumpahan Minyak yang sering kali mengendap di akar-akar mangrove dan sulit dijangkau oleh peralatan mekanis. Dengan mengoptimalkan nutrisi pada lahan yang tercemar, bakteri tersebut akan bekerja secara efisien menghancurkan rantai karbon minyak.
Penerapan Strategi ini memerlukan ketelitian dalam pemantauan parameter lingkungan seperti pH tanah, suhu, dan kadar oksigen. HAKLI Langsa melakukan edukasi kepada masyarakat pesisir mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar mikroorganisme ini dapat bekerja maksimal. Keunggulan dari metode ini adalah biayanya yang relatif lebih murah dan hasilnya yang jauh lebih permanen karena polutan benar-benar dihilangkan dari lingkungan, bukan sekadar dipindahkan ke tempat lain. Hal ini memberikan perlindungan jangka panjang bagi sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan hidup nelayan setempat.
Keterlibatan praktisi kesehatan lingkungan dalam proyek ini juga mencakup analisis risiko kesehatan bagi penduduk di sekitar kawasan terdampak. Minyak yang tidak tertangani dapat menguap dan menghasilkan senyawa organik volatil yang berbahaya bagi pernapasan. Melalui Bioremediasi, risiko paparan zat karsinogenik dari residu minyak dapat ditekan secara signifikan. Inisiatif ini membuktikan bahwa penggabungan antara bioteknologi dan kesadaran lingkungan dapat menjadi solusi ampuh bagi tantangan industri di wilayah pesisir. Langsa kini menjadi model bagi daerah lain di Aceh dalam menangani krisis pencemaran laut dengan cara yang saintifik.