Kesadaran akan kelestarian alam harus dibentuk sejak dini, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi tempat berkumpulnya ribuan siswa setiap harinya. SMPN 1 Pasuruan memahami bahwa masalah limbah domestik sekolah tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyediakan tempat sampah yang banyak, melainkan harus melalui perubahan pola pikir yang mendasar. Melalui program Edukasi Kebersihan Lingkungan, sekolah ini menargetkan perubahan perilaku yang signifikan pada seluruh warga sekolah. Pendidikan ini dirancang untuk memberikan pemahaman bahwa kebersihan bukan sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah tanggung jawab moral terhadap bumi yang kita tinggali.
Dalam melaksanakan program ini, sekolah menjalin kemitraan strategis dengan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI). Para tenaga ahli dari HAKLI memberikan pembekalan teknis mengenai manajemen limbah berbasis sirkular. Di SMPN 1 Pasuruan, para siswa diajarkan untuk membedakan jenis-jenis sampah secara mendetail, mulai dari sampah organik yang mudah membusuk, anorganik yang dapat didaur ulang, hingga limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti baterai bekas atau lampu pijar. Pemahaman klasifikasi ini sangat penting agar proses pengolahan sampah di tahap selanjutnya dapat berjalan lebih efisien dan tidak mencemari lingkungan sekitar.
Salah satu fokus utama dari kampanye ini adalah mewujudkan visi sekolah yang Bebas Sampah pada tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, sekolah menerapkan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai secara ketat. Siswa diimbau untuk membawa botol minum dan wadah makan sendiri dari rumah. Kantin sekolah pun didorong untuk tidak lagi menggunakan pembungkus plastik yang sulit terurai. Edukasi ini memberikan dampak nyata di mana volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) dari sekolah ini menurun drastis. Siswa belajar bahwa cara terbaik mengelola sampah adalah dengan tidak memproduksinya sejak awal melalui gaya hidup minimalis dan bertanggung jawab.
Pelaksanaan program di wilayah Pasuruan ini juga melibatkan praktik lapangan yang interaktif. Bersama instruktur kesehatan lingkungan, siswa diajak melakukan audit sampah di kelas masing-masing untuk melihat pola konsumsi mereka. Data hasil audit ini kemudian dijadikan bahan diskusi di kelas geografi atau biologi untuk memahami dampak polusi terhadap kesehatan manusia. Dengan melihat data nyata, para Siswa menjadi lebih termotivasi untuk menjaga kebersihan karena mereka memahami korelasi langsung antara lingkungan yang kotor dengan risiko munculnya berbagai penyakit menular di sekitar mereka.