Ketersediaan air yang layak konsumsi merupakan hak dasar setiap manusia, namun menjaga keberlangsungannya memerlukan komitmen kolektif yang kuat. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Langsa menyadari bahwa tantangan pencemaran lingkungan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan pemukiman. Oleh karena itu, organisasi ini secara aktif mulai melakukan gerakan masif untuk mengajak masyarakat agar lebih disiplin jaga lingkungan sekitar, terutama yang berkaitan langsung dengan ekosistem perairan yang menjadi tumpuan hidup warga sehari-hari.
Salah satu fokus utama dari edukasi ini adalah perlindungan terhadap sumber air bersih seperti sumur gali, mata air, dan aliran sungai. Masyarakat diberikan pemahaman bahwa tindakan sederhana seperti tidak membuang sampah domestik atau limbah rumah tangga ke saluran air memiliki dampak jangka panjang yang luar biasa. Kedisiplinan dalam menata letak septic tank yang sesuai dengan standar kesehatan, yaitu minimal berjarak sepuluh meter dari sumber air, menjadi poin krusial yang terus disosialisasikan. HAKLI menekankan bahwa air yang terlihat jernih belum tentu aman dari kontaminasi bakteri jika lingkungan sekitarnya tidak dijaga dengan ketat.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Langsa. Air yang tercemar merupakan vektor utama bagi berbagai penyakit berbahaya, mulai dari diare, kolera, hingga stunting pada anak-anak akibat gangguan penyerapan nutrisi yang disebabkan oleh infeksi saluran cerna berulang. Dengan membangun kesadaran untuk mematuhi aturan sanitasi, risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan dapat ditekan secara signifikan. HAKLI berperan sebagai jembatan informasi teknis bagi warga mengenai cara melakukan pengolahan air sederhana dan pemantauan kualitas air secara mandiri di tingkat rumah tangga.
Program mengajak masyarakat untuk disiplin jaga sumber daya alam ini juga melibatkan tokoh masyarakat dan perangkat desa. HAKLI Langsa percaya bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal akan lebih efektif dalam mengubah perilaku masyarakat dibandingkan sekadar memberikan instruksi formal. Diskusi-diskusi publik diadakan untuk membahas pentingnya area resapan air dan pelarangan penebangan pohon di sekitar hulu sungai. Kesadaran untuk tidak menggunakan bahan kimia berbahaya dalam aktivitas sehari-hari di dekat perairan menjadi bagian dari etika lingkungan yang harus mendarah daging dalam kehidupan warga.