Dalam pemaparannya, para ahli kesehatan lingkungan menyoroti mengenai bahaya zat pewarna sintetis yang sering ditemukan pada produk pakaian dengan harga yang sangat murah. Banyak dari pewarna tersebut mengandung senyawa azo atau logam berat seperti timbal dan kromium. Jika zat ini terus menerus bersentuhan dengan tubuh, terutama saat berkeringat, maka pori-pori kulit akan menyerap partikel kimia tersebut. Hal ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang yang merugikan, sehingga penting bagi kita untuk memahami asal-usul produk yang kita kenakan sehari-hari.
Dampak yang paling sering dilaporkan terkait paparan ini adalah gangguan pada kesehatan kulit yang bersifat akut. Gejala yang muncul bisa berupa dermatitis kontak, kemerahan, rasa gatal yang hebat, hingga sensasi terbakar. Bagi individu yang memiliki kulit sensitif, reaksi ini bisa berkembang menjadi luka atau infeksi sekunder jika tidak segera ditangani dengan benar. Pihak HAKLI menekankan bahwa pakaian yang memiliki bau kimia menyengat atau warna yang mudah luntur saat dicuci merupakan indikasi kuat adanya penggunaan bahan pewarna yang tidak sesuai dengan standar keamanan kesehatan nasional.
Selain masalah iritasi, penggunaan bahaya zat pewarna pakaian yang ilegal atau tidak terkontrol juga memiliki risiko karsinogenik. Beberapa jenis pewarna tekstil diketahui dapat merusak struktur sel kulit jika terpapar dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, HAKLI menyarankan agar masyarakat selalu mencuci pakaian baru sebelum digunakan pertama kali. Proses pencucian ini sangat krusial untuk meluruhkan sisa-sisa residu kimia dan sisa proses produksi yang masih menempel pada serat kain. Langkah sederhana ini merupakan bentuk perlindungan diri yang paling efektif untuk menjaga integritas kulit kita.
Edukasi yang diberikan oleh HAKLI Langsa juga menyentuh aspek lingkungan yang lebih luas. Pembuangan limbah sisa pewarnaan pakaian dari industri rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari sumber air warga. Air yang terkontaminasi bahan kimia ini, jika digunakan untuk mandi atau mencuci, akan kembali merusak kesehatan masyarakat secara masif. Maka dari itu, sosialisasi ini juga ditujukan bagi para pengusaha konveksi lokal agar lebih bijak dalam memilih bahan baku yang ramah lingkungan dan melakukan pengolahan limbah yang memenuhi standar sanitasi yang telah ditetapkan.