Menu Tutup

Peran Ekowisata: Menjelajahi Alam Sambil Melestarikannya

Seringkali, pariwisata identik dengan keramaian dan dampak lingkungan negatif. Namun, sebuah konsep baru telah berkembang, menawarkan cara yang lebih bertanggung jawab untuk menikmati keindahan alam. Konsep tersebut dikenal sebagai ekowisata. Peran ekowisata tidak hanya sebatas mengajak wisatawan untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga berfokus pada pelestarian, pemberdayaan masyarakat lokal, dan edukasi lingkungan.

Pada hari Jumat, 12 Desember 2025, dalam sebuah acara seminar nasional di Balai Sidang Senayan, Jakarta, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bapak Sandiaga Uno, menyatakan bahwa ekowisata adalah salah satu strategi utama untuk memajukan pariwisata Indonesia. “Kita harus beralih dari pariwisata massal ke pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Peran ekowisata sangat penting dalam mencapai tujuan ini, karena ia menjaga keindahan alam kita sambil memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” jelasnya. Beliau juga mencontohkan keberhasilan program ekowisata di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, yang berhasil meningkatkan populasi gajah Sumatra sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar taman nasional.

Salah satu kunci keberhasilan ekowisata terletak pada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Di sebuah desa konservasi di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, pada 20 Januari 2025, masyarakat lokal secara aktif terlibat dalam pengelolaan area wisata. Mereka menjadi pemandu wisata, mengelola penginapan berbasis rumah tangga, dan menjual kerajinan tangan. Polsek setempat, pada tanggal 15 Januari 2025, juga melakukan patroli rutin untuk memastikan keamanan dan mencegah kegiatan ilegal seperti penangkapan ikan menggunakan bom atau sianida. Keterlibatan ini tidak hanya melestarikan alam, tetapi juga memberdayakan masyarakat, sehingga mereka memiliki alasan kuat untuk melindungi lingkungan mereka.

Selain pelestarian, peran ekowisata juga sangat vital dalam mengedukasi wisatawan. Saat mengunjungi Cagar Alam Ujung Kulon pada 10 Maret 2025, para wisatawan tidak hanya melihat badak Jawa, tetapi juga mendapatkan penjelasan mendalam dari pemandu mengenai pentingnya konservasi dan ancaman yang dihadapi badak. Pengalaman ini mengubah persepsi mereka, dari sekadar penikmat menjadi duta lingkungan yang turut menyebarkan kesadaran. Studi yang dirilis oleh Institut Ekowisata Indonesia pada 5 Februari 2025, menunjukkan bahwa 80% wisatawan yang mengikuti program ekowisata merasa lebih peduli terhadap isu lingkungan setelah kunjungan mereka.

Dengan mendorong praktik pariwisata yang bertanggung jawab, peran ekowisata menjadi jembatan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Ia membuktikan bahwa manusia bisa menjelajahi keindahan alam tanpa harus merusaknya. Sebaliknya, melalui ekowisata, alam dan manusia dapat tumbuh bersama dalam sebuah hubungan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan untuk masa depan.