Menu Tutup

Studi HAKLI Langsa: Mengurai Problematika Sanitasi dan Kebersihan di Wilayah Pesisir Aceh

Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) cabang Langsa telah merilis studi komprehensif yang menyoroti problematika serius terkait Sanitasi dan kebersihan di Wilayah Pesisir Aceh. Studi ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara infrastruktur Sanitasi yang tersedia dengan kebutuhan riil masyarakat pesisir, yang secara historis seringkali luput dari perhatian pembangunan yang terpusat di daratan. Hasil studi HAKLI ini menjadi dasar penting untuk merumuskan intervensi kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Wilayah Pesisir Aceh memiliki karakteristik unik, di mana kepadatan penduduk seringkali tinggi dan permukiman dibangun sangat dekat dengan garis pantai atau di atas perairan (waterfront settlements). Studi HAKLI Langsa menemukan bahwa persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas Sanitasi layak, khususnya jamban tertutup dan sistem pembuangan air limbah yang memadai, masih jauh di bawah standar nasional. Banyak masyarakat masih membuang limbah domestik, termasuk tinja, secara langsung ke laut atau perairan terbuka. Praktik ini tidak hanya mencemari ekosistem laut yang sensitif, tetapi juga menciptakan risiko kesehatan yang tinggi bagi masyarakat pesisir itu sendiri.

Problematika utama dalam Sanitasi di Wilayah Pesisir adalah kesulitan teknis dan biaya pembangunan septic tank atau sistem pengolahan limbah yang kedap air di lahan berawa atau berlumpur dekat air asin. HAKLI merekomendasikan solusi teknologi adaptif dan berkelanjutan, seperti pembangunan communal septic tank terpusat (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat/SPALD-T) yang dirancang khusus untuk kondisi tanah pesisir. Selain itu, diperlukan edukasi intensif mengenai pentingnya Sanitasi yang layak untuk mencegah penyakit berbasis air dan lingkungan, seperti diare, kolera, dan tifus.

Studi HAKLI juga menyoroti aspek kebersihan dan pengelolaan sampah di Wilayah Pesisir. Ditemukan bahwa sampah plastik dan sampah domestik lainnya yang tidak terkelola dengan baik seringkali berakhir di laut, merusak terumbu karang, dan mengganggu mata pencaharian nelayan. Rekomendasi HAKLI adalah mendorong model pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat desa pesisir, yang memfasilitasi pemilahan sampah dari sumbernya dan memiliki sistem pengangkutan yang teratur, bekerja sama dengan pemerintah daerah. Keterlibatan aktif masyarakat pesisir adalah kunci keberhasilan program ini.

Secara keseluruhan, studi HAKLI Langsa mengenai Sanitasi di Wilayah Pesisir Aceh menegaskan bahwa investasi pada kesehatan lingkungan di daerah pinggiran sama pentingnya dengan di perkotaan. Dengan intervensi kebijakan yang tepat, penggunaan teknologi sanitasi yang adaptif, dan peningkatan kesadaran masyarakat, kualitas hidup dan kesehatan ekosistem pesisir dapat dipulihkan secara signifikan.